PARIGI MOUTONG, NOTEZA.ID – Kondisi cuaca yang berbeda terjadi secara bersamaan di Kabupaten Parigi Moutong. Saat sejumlah wilayah bagian utara mengalami penurunan ketersediaan air yang cukup tajam, kawasan lainnya justru menghadapi hujan deras dan banjir bandang. Situasi ini membuat penanganan bencana harus dilakukan dengan pendekatan berbeda sesuai karakter ancaman di masing-masing wilayah.
Dengan wilayah administratif yang membentang sekitar 510 kilometer, Parigi Moutong kini menghadapi persoalan kekeringan sekaligus banjir dalam waktu berdekatan. Kondisi tersebut menjadi perhatian serius pemerintah daerah karena dampaknya mulai menyentuh kebutuhan air masyarakat, sektor pertanian, akses transportasi hingga permukiman.
Bupati Parigi Moutong, H. Erwin Burase, menyampaikan kondisi tersebut saat mengikuti Rapat Koordinasi Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) serta kekeringan yang dipimpin Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid, di Ruang Rapat Polibu Kantor Gubernur Sulawesi Tengah, Senin (31/8/2026).
Untuk wilayah utara, ancaman paling menonjol berasal dari cuaca panas berkepanjangan yang meningkatkan potensi Karhutla dan kekeringan. Pemerintah daerah bahkan telah menetapkan status siaga Karhutla pada lima kecamatan yang berada di kawasan Mepanga hingga Moutong.
Persoalan tidak berhenti pada ancaman kebakaran. Berkurangnya debit sungai turut mengganggu kebutuhan air untuk lahan pertanian. Di Kecamatan Mepanga, sekitar 3.200 hektare areal persawahan masyarakat dilaporkan mulai mengalami kekeringan karena pasokan air semakin terbatas.
Erwin mengatakan pemerintah perlu menyiapkan langkah yang dapat langsung menjawab kebutuhan petani apabila kondisi tersebut terus berlangsung.
“Keluhan masyarakat sudah disampaikan kepada kami karena kondisi air yang semakin berkurang. Kalau kekeringan ini berkepanjangan, salah satu langkah yang perlu segera disiapkan adalah sumur bor untuk membantu memenuhi kebutuhan pengairan sawah,” ujar Erwin.
Sementara itu, persoalan berbeda muncul di wilayah Parigi hingga Kasimbar. Hujan dengan intensitas tinggi yang terjadi berulang kali menyebabkan sejumlah daerah menghadapi banjir dan gangguan akses.
Di Kecamatan Kasimbar, banjir bandang tercatat terjadi dua kali, yakni pada 16 dan 26 Agustus 2026. Bencana tersebut juga disertai longsoran material yang sempat menutup Jalan Trans Sulawesi di Desa Paningka. Arus kendaraan kemudian dapat kembali dilayani setelah penanganan dilakukan dengan pembangunan jembatan darurat atau Bailey.
Dampak banjir juga dirasakan warga Desa Avolua. Sebanyak 73 kepala keluarga harus meninggalkan rumah dan mengungsi setelah permukiman mereka terdampak banjir. Sejumlah rumah warga bahkan mengalami kerusakan berat akibat terjangan air.
Kondisi serupa terjadi di Desa Toboli Barat. Banjir menyebabkan fasilitas penampungan dan jaringan pipa Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) mengalami kerusakan. Akibatnya, sekitar 350 kepala keluarga menghadapi kesulitan memperoleh air bersih.
Menghadapi ancaman Karhutla di daerah yang memiliki medan sulit, Erwin mengusulkan agar strategi pemadaman tidak hanya mengandalkan kendaraan pemadam kebakaran. Menurutnya, karakter kebakaran di kawasan perbukitan dan hutan membutuhkan metode yang lebih fleksibel karena kendaraan tidak selalu dapat mencapai titik api.
Pengalaman penanganan sebelumnya menjadi dasar usulan tersebut. Dalam operasi di lapangan yang melibatkan sekitar 100 personel TNI dan Polri serta kurang lebih 1.000 masyarakat, penggunaan tangki semprot manual, mesin penyedot air atau alkon, dan kolam penampung berbahan plastik dinilai membantu menghambat pergerakan api.
“Kendaraan pemadam tetap kita prioritaskan untuk melindungi kawasan permukiman. Tetapi ketika titik api sudah bergerak ke kawasan gunung atau hutan, pasukan di lapangan harus bisa bergerak secara manual menggunakan tangki semprot dan penampung air. Cara ini dapat menjadi langkah cepat sebelum dukungan udara seperti helikopter tersedia,” jelas Erwin.
Selain penanganan ketika bencana terjadi, pemerintah daerah juga meningkatkan langkah pencegahan. Sosialisasi dilakukan hingga ke tingkat desa dengan memanfaatkan berbagai kegiatan masyarakat, termasuk pesta pernikahan dan aktivitas di rumah ibadah.
Warga terus diingatkan agar tidak membakar sampah maupun sisa ranting secara sembarangan. Masyarakat juga diminta lebih berhati-hati terhadap puntung rokok yang berpotensi menjadi sumber awal kebakaran di tengah kondisi lahan yang kering.
Data hingga 28 Agustus 2026 menunjukkan ancaman Karhutla dan kekeringan masih menjadi persoalan di Sulawesi Tengah. Sebanyak 87 kejadian Karhutla dan 15 kejadian kekeringan tercatat terjadi di wilayah provinsi tersebut.
Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid, menilai kondisi cuaca menjadi salah satu faktor yang memperbesar potensi kebakaran. Namun, aspek kelalaian manusia juga tetap menjadi perhatian sehingga pencegahan harus dilakukan secara bersama-sama.
“Kebakaran hutan dan lahan bukan hanya dipicu oleh kelalaian, tetapi juga dipengaruhi kondisi cuaca yang sangat panas. Karena itu, koordinasi antarpihak sangat penting agar kejadian yang ada tidak berkembang menjadi bencana yang lebih luas dan menimbulkan kerugian lebih besar,” tegas Anwar.
Penguatan penanganan di lapangan juga mendapat dukungan Pangdam XXIII/Palaka Wira, Mayjen TNI Jonathan Binsar P. Sianipar. TNI menyatakan kesiapan mengerahkan personel serta berbagai sarana pendukung pada lokasi yang dinilai memiliki potensi ancaman.
Kolaborasi antara pemerintah daerah, pemerintah provinsi, TNI, Polri dan masyarakat menjadi salah satu kunci menghadapi kondisi cuaca yang tidak seragam tersebut. Penanganan di wilayah yang mengalami kekeringan diarahkan pada pemenuhan kebutuhan air dan perlindungan sektor pertanian, sementara kawasan rawan banjir dan Karhutla membutuhkan kesiapsiagaan serta respons cepat.
Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong juga terus memantau perkembangan kondisi di setiap wilayah. Perbedaan ancaman bencana dari satu kecamatan dengan kecamatan lainnya menjadi dasar untuk menyesuaikan langkah penanganan, sehingga sumber daya yang tersedia dapat diarahkan kepada lokasi yang paling membutuhkan.














