Scroll untuk baca artikel
Example 500x400
Example floating
Example floating
banner 970x250
Parigi Moutong

Petani Durian Parimo Alami Gagal Panen, Bappelitbangda Cari Solusi Lewat Penelitian

×

Petani Durian Parimo Alami Gagal Panen, Bappelitbangda Cari Solusi Lewat Penelitian

Sebarkan artikel ini

PARIGI MOUTONG, NOTEZA.ID – Gelombang penurunan hasil panen durian tengah menjadi perhatian di Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), Sulawesi Tengah. Fenomena yang dalam beberapa tahun terakhir dikeluhkan para petani itu menyebabkan produksi buah menurun tajam di berbagai sentra budidaya, sehingga mendorong pemerintah daerah melakukan penelitian untuk mengungkap penyebab sekaligus mencari solusi yang tepat.

Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian, dan Pengembangan Daerah (Bappelitbangda) Parimo kini tengah meneliti fenomena yang dikenal masyarakat sebagai bangkalan. Penelitian dilakukan setelah banyak petani melaporkan hasil panen yang merosot drastis, bahkan sebagian di antaranya mengalami gagal panen.

“Petani yang ada di Parigi ini hasil panennya tidak sampai 2,5 persen, bahkan ada yang gagal total. Rata-rata kondisinya semua begitu,” ujar Kepala Bidang Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Bappelitbangda Parimo, Mardiana, saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis, (30/07/2026).

Mardiana menjelaskan, hasil sementara penelitian menunjukkan fenomena bangkalan tidak berkaitan dengan serangan hama maupun penyakit tanaman. Penurunan produktivitas diduga lebih dipengaruhi oleh kondisi tanah yang terus mengalami penurunan kualitas.

“Dari hasil penelitian sementara yang kita dapatkan, itu sebenarnya bukan penyakit. Kondisi tanah yang rata-rata usianya sudah di atas 10 tahun, serta cuaca panas dan kemarau panjang kemarin sangat berpengaruh,” katanya.

Menurut dia, pemanfaatan lahan secara terus-menerus dalam jangka panjang, ditambah cuaca panas ekstrem dan kemarau berkepanjangan, menjadi faktor utama yang memengaruhi kemampuan pohon durian dalam menghasilkan buah.

Selain itu, penggunaan pupuk kimia secara berlebihan dalam waktu lama diduga menyebabkan kandungan unsur hara tanah semakin menurun. Akibatnya, struktur tanah mengalami kerusakan sehingga produktivitas tanaman ikut terdampak.

“Rata-rata tanah kita itu nutrisinya tinggal sekitar 25 persen karena sudah terlalu banyak dimasuki bahan kimia, sehingga struktur tanahnya rusak. Bahkan ada pohon yang baru berumur sekitar lima tahun juga mengalami gagal total dan tidak bisa dipanen sama sekali,” ujarnya.

Sebagai langkah penanganan, Bappelitbangda Parimo sedang mengembangkan formulasi pupuk yang mengombinasikan pupuk organik dengan penggunaan pupuk kimia dalam jumlah terbatas. Formula tersebut masih berada pada tahap uji coba untuk mengetahui efektivitasnya dalam memulihkan kesuburan tanah.

“Mudah-mudahan hasilnya bisa terlihat di tahun depan. Kalau memang SOP racikan pupuk ini berhasil dan bisa mengatasi masalah bangkalan, maka racikan pupuk itu nanti akan kita patenkan juga,” jelasnya.

Saat ini, penelitian difokuskan di Kecamatan Kasimbar dan Desa Beraban, Kecamatan Balinggi. Kedua wilayah tersebut dipilih sebagai lokasi uji coba karena dinilai memudahkan proses pemantauan dan evaluasi.

Bappelitbangda berharap hasil penelitian tersebut nantinya dapat diterapkan di seluruh sentra produksi durian di Kabupaten Parigi Moutong sehingga mampu menjadi solusi untuk memulihkan produktivitas tanaman dan meningkatkan kembali hasil panen para petani.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *