PARIGI MOUTONG, NOTEZA — Roda organisasi boleh berganti pimpinan, tetapi semangat perjuangan atlet untuk mengharumkan nama daerah tidak boleh ikut berubah. Bagi futsal Parigi Moutong, perjuangan menuju Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Sulawesi Tengah ke-X bukan semata-mata tentang pertandingan dan kemenangan, melainkan tentang membawa nama besar daerah dengan penuh kehormatan.
Semangat itu mulai kembali dikuatkan Asosiasi Futsal Kabupaten (Afkab) Parigi Moutong. Pelaksana Tugas (Plt) Ketua Afkab Parigi Moutong, Roni Saputra, Kamis (10/9/2026), melakukan koordinasi dengan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Parigi Moutong untuk memastikan kesiapan tim menghadapi Porprov X yang akan berlangsung di Kabupaten Morowali pada Desember mendatang.
Sebanyak 16 atlet telah melewati tahapan seleksi yang panjang hingga akhirnya dipercaya menjadi bagian dari skuad futsal Parigi Moutong. Mereka kini memasuki fase persiapan yang lebih serius untuk ditempa, diperkuat secara mental maupun fisik, serta dipersiapkan menghadapi persaingan di ajang olahraga tingkat provinsi tersebut.
Bagi para atlet, kesempatan mengenakan jersey dengan lambang dan nama Parigi Moutong merupakan sebuah kehormatan. Di balik seragam itu terdapat identitas daerah yang harus mereka bawa dengan penuh tanggung jawab.
Mereka bukan hanya pemain yang mengejar kemenangan di lapangan. Mereka adalah patriot olahraga yang membawa harapan masyarakat, kebanggaan keluarga, serta impian besar untuk mengangkat nama Kabupaten Parigi Moutong di hadapan daerah-daerah lain di Sulawesi Tengah.
Karena itu, setiap latihan, keringat, dan perjuangan yang mereka jalani memiliki arti lebih dari sekadar persiapan pertandingan.
Ada nama daerah yang harus diperjuangkan, ada harga diri yang harus dijaga, dan ada impian untuk mengharumkan nama besar Parigi Moutong.
Dalam pandangan Afkab Parigi Moutong, olahraga memiliki nilai yang jauh lebih besar daripada sekadar hasil akhir pertandingan. Olahraga adalah ruang untuk menunjukkan karakter, disiplin, keberanian, persatuan, dan kecintaan terhadap daerah.
Futsal pun ditempatkan dalam semangat yang sama. Setiap pemain dituntut memberikan kemampuan terbaik, bermain dengan disiplin dan sportivitas, serta tidak mudah menyerah ketika menghadapi tekanan pertandingan.
Di Morowali nanti, 16 atlet tersebut akan membawa satu nama yang sama. Parigi Moutong.
Mereka akan bertanding bukan hanya untuk mencatatkan kemenangan pribadi, tetapi untuk sebuah kebanggaan yang lebih besar. Setiap gol yang tercipta, setiap perebutan bola, setiap penyelamatan, hingga setiap tetes keringat di lapangan menjadi bagian dari perjuangan membawa nama daerah tetap tegak.
Itulah sebabnya Porprov X menjadi lebih dari sekadar agenda kompetisi bagi futsal Parigi Moutong. Ajang tersebut menjadi panggung bagi para atlet untuk membuktikan bahwa putra-putra daerah mampu bersaing, mampu berjuang, dan mampu memberikan prestasi terbaik ketika diberi kepercayaan membawa nama daerah.
Roni Saputra menegaskan pentingnya kesiapan tim menghadapi momentum tersebut. Koordinasi dengan KONI menjadi bagian dari upaya memastikan pembinaan dan persiapan berjalan dengan baik sehingga para atlet dapat tampil maksimal saat kompetisi berlangsung.
Pergantian kepemimpinan dalam organisasi pun tidak boleh memutus semangat yang telah dibangun. Justru harus menjadi energi baru untuk melanjutkan pembinaan dan mempersiapkan atlet agar semakin siap menghadapi tantangan.
Sebab bagi futsal Parigi Moutong, perjuangan belum selesai ketika para pemain memasuki lapangan. Perjuangan itu telah dimulai sejak mereka memilih untuk berlatih, menjalani seleksi, menerima tekanan, menjaga disiplin, dan terus mengasah kemampuan demi satu tujuan, mengharumkan nama daerah.
Desember mendatang, ketika para pemain melangkah ke lapangan Porprov X di Morowali, mereka membawa lebih dari sekadar bola dan jersey. Mereka membawa nama untuk mengharumkan daerah.














