Noteza.id, PALU – Gempa bumi, tsunami, dan likuefaksi yang melanda Sulawesi Tengah pada 28 September 2018 tercatat sebagai salah satu bencana paling dahsyat dalam sejarah Indonesia modern.
Episentrum gempa di sepanjang Sesar Palu-Koro tidak hanya meluluhlantakkan infrastruktur, tetapi juga menorehkan trauma mendalam bagi masyarakat Palu, Donggala, Sigi, dan Parigi Moutong.
Dalam sekejap, kota Palu dan sekitarnya diguncang hebat oleh gempa berkekuatan 7,4 SR, disusul terjangan tsunami di Teluk Palu dan fenomena likuefaksi yang menelan ribuan rumah.
Ribuan nyawa melayang, puluhan ribu kehilangan tempat tinggal, dan kehidupan ekonomi serta sosial lumpuh total. Luka fisik dan batin itu masih membekas hingga kini.
Namun, di balik derita besar, masyarakat Sulawesi Tengah menemukan pegangan untuk bangkit melalui kearifan lokal. Nilai-nilai budaya Kaili, tradisi gotong royong mosangu, serta petuah filosofis “Ane Nadungga Peangga, Ane Naombo Pakarisi” (jika tumbang, bangkitlah; jika runtuh, tegaklah kembali) menjadi penopang moral.
Saling menguatkan (mombine langgai nosipeili nosangu naroso) lahir dari kepedulian kolektif, menghadirkan solidaritas nyata untuk menyembuhkan luka batin.
Bencana besar 28 September 2018 bukan sekadar catatan duka, melainkan pengingat akan pentingnya menjaga harmoni dengan alam.
Kearifan lokal masyarakat Kaili mengajarkan bahwa bencana bukan hukuman, melainkan peringatan agar manusia tidak melupakan keseimbangan ekologis.
Dari reruntuhan, masyarakat Palu, Donggala, Sigi, dan Parigi Moutong perlahan bangkit, menata harapan baru, dan menunjukkan bahwa kekuatan budaya mampu menjaga manusia tetap hidup dalam harmoni dengan alam dan sesama.














