banner 970x250

Anak Muda Bicara Pilgub Sulteng, Endang dan Ikki Balla Silang Pendapat

Foto : Google.

Noteza.id – Proses pemungutan suara pada pilkada serentak tahun 2020 tengah berlangsung. Di Parigi Moutong ramai diperbincangkan terkait pasangan calon (paslon) Gubernur dan wakil Gubernur yang akan melenggang menuju kursi orang nomor satu di Provinsi Sulawesi Tengah tersebut.

Pilkada Sulawesi Tengah kali ini sangat menggugah semangat generasi muda yang ada di Parigi Moutong untuk ikut terlibat langsung dalam ajang pesta demokrasi 5 tahunan tersebut. Tanpa terkecuali di internal komunitas muda Landasan Community Parigi terjadi polarisasi piilihan yang berbeda hingga silang pendapat pun terjadi.

banner 970x250

Ikki Balla, bendahara Landasan Community yang notabene pendukung sebagai relawan untuk tim nomor urut 1 paslon Hidayat Lamakarate – Bartholomeus Tandigala yang megusung jargon HEBAT. Alasan tepat yang diutarakan oleh Ikki Balla adalah karena paslon nomor urut 1 memiliki visi misi yang jelas dan terukur.

“Paslon 1 punya kapabilitas, merakyat. Programnya jelas dan terukur, tidak ada yang mustahil untuk diwujudkan. Torang sebagai anak muda tidak ada alasan untuk tidak memilih beliau berdua, karena mereka adalah representasi dari generasi muda dan keberagaman,” tandasnya.

Ikki Balla saat latihan panahan.

Sementara disisi lain, Nur Hasan atau yang sering disapa Endang mengemukakan hal yang berbeda, menurutnya paslon nomor urut 2 lah yang harus jadi gubernur Sulawesi Tengah ke depan. Karena program-programnya sangat merakyat. Ia menilai, segala permasalahan yang tengah dihadapi oleh Sulawesi Tengah harus ditangani oleh pemimpin yang bervisi besar tanpa kepentingan apapun.

Moh. Nur Hasan/Endang

“Saya pilih nomor dua. bukan karena ikut-ikutan. tapi memang saya lihat pasangan pak Rusdy Mastura dan Mamun Amir adalah dua kolaborasi putra Sulawesi Tengah yang baik. Sulawesi Tengah harus berbenah, tidak boleh lambat pembangunannya, tujuannya untuk memperbaiki daerah ini patut kita dukung,” ujar Ketua Landasan Community Parigi tersebut.

Di tempat lain, Abu Abidzar mengatakan bukan hal baru jika di kubu Landasan Community Parigi terjadi silang pendapat mengenai pilihan di pilkada seperti sekarang ini. Menurutnya, masing-masing anggota tidak pernah diatur hak-hak pribadinya, termasuk urusan pilihan politik. Semuanya bebas, tapi menurutnya setiap anggota jangan pernah bawa-bawa organisasi dalam politik.

Abu Abidzar bersama Abu Khanza saat berada di salah satu hotel di Kota Medan.

“Sah saja siapa memilih siapa. Selagi itu secara pribadi, dalam rapat-rapat organisasi juga kadang ada yang maunya beda-beda, tapi kan kita lihat mana yang diputuskan forum. Jadi wajar saja, ini kan momentum 5 tahunan. Asal jangan bawa-bawa politik ke organisasi, itu tidak boleh, diatur dalam ADART,” pungkas wakil ketua Landasan Community Parigi tersebut.